Hedonisme, Hak Asasi Yang Kebablasan dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat dan budaya lokal
Hedonisme , akhir - akhir ini banyak masyarakat Indonesia terpengaruh akan budaya tersebut. Tidak hanya dikalangan anak muda atau remaja, bahkan orang tua pun sudah banyak yang terpengaruh bahkan cenderung menganut budaya tersebut. Tidak hanya masyarakat biasa, bahkan para pejabat yang seharusnya menjadi contoh yang baik bagi warganya malah cenderung lebih terlihat gaya hidupnya yang bisa dikatagorikan dengan Hedonism Lifestyle.
Apa sebenarnya hedonisme tersebut ? Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. (wikipedia). Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?" Hal ini diawali dengan Sokrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Arristopos dari Kyrene. menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.
Pengaruh hedonisme di Indonesia sudah sangat kelihatan, bahkan dengan bangga dipamerkan di televisi oleh para public figure yang secara tidak langsung mempengaruhi orang-orang yang mengidolakan mereka. Dengan bangga para Artis tersebut memamerkan barang-barang mewahnya, cara berpakaiannya dan pergi ke tempat-tempat hiburan malam atau jalan-jalan ke luar negeri.
Hal tersebut akhirnya sangat berpengaruh terhadap perilaku dan moral masyarakat, dimana masyarakat hedonis cenderung berpandangan "Hidup di dunia cuma sebentar, maka bersenang-senanglah". Dengan berpandangan tersebut mereka memenuhi club-club malam, mabuk-mabukan dan bahkan sampai terjadi seks bebas dan peredaran narkoba di kalangan remaja. Tidak hanya remaja, para orang tua pun tidak mau kalah dengan pamer perhiasan dan mobil mewah, tidak hanya masyarakat biasa bahkan Pejabat di negeri ini tidak mau kalah dengan hidup bermewah - mewahan, mengambur - hamburkan anggaran dengan alasan studi banding ke luar negeri yang tidak jelas hasilnya, dan budaya berobat ke luar negeri. Mereka semua tidak lagi memikirkan sekitar dimana masih banyak orang yang tidak bisa makan, sekolah dan berobat. Seakan tutup mata tutup telinga mereka seenaknya menghambur-hamburkan uang tanpa peduli lagi kepada sekitar. Ini semua indikasi bahwa telah terjadi degradasi moral bangsa Indonesia. Budaya Indonesia yang terkenal arif, bijaksana, dan saling berbagi antar sesama seakan telah hilang. Walaupun tidak semua masyarakat Indonesia demikian, Namun demikian dengan adanya sebagian kecil masyarakat yang berperilaku hedonisme itu telah menyebabkan tatanan pemerintahan menjadi tercemar dan hambatan besar bagi suatu bangsa, karena lapisan kecil itu berada pada posisi-posisi penting dalam bidang hukum, ekonomi, dan pemerintahan.
Dalam sebuah acara seminar Exploring and Empowering National and Local Wisdom toward a Clean and Good Governance, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Kamis (2/2) Staf Pengajar dari Fakultas Hukum UI, Erman Rajagukguk mengatakan bahwa hedonisme telah menular kepada sebagian kelas menengah Indonesia, mereka yang berpendapatan cukup melebihi kebutuhan hidup keluarga. Ingin pamer keberhasilan hidup, nafsu konsumtif yang bergelora menyebabkan mereka ini menyerbu produk makanan, fesyen, barang elektronik sampai otomotif. “Lihat saja ketika mereka rela antri berdesak-desakan membeli telepon seluler mutakhir yang dikatakan dijual dengan harga promo,”katanya. “Akhirnya sejumlah kearifan lokal seperti ungkapan-ungkapan tua yang menjadi filosofi hidup turun temurun dan mengakar kuat seakan hilang begitu saja,”tutur Erman. Dalam lain kesempatan, berkaitan dengan hedonisme di kalangan pejabat Ketua Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) Busyro Maqoddas menilai “Adanya perilaku bermewah-mewah merupakan indikasi awal tumbuhnya tindak korupsi” ujar Busryo.
Gaya hidup/budaya hedonisme di masyarakat tidak lepas oleh banyaknya dan maraknya cafe-cafe, diskotik dan tempat - tempat hiburan malam yang banyak bertebaran di kota-kota besar. Selain itu adanya kelompok masyarakat yang mengaku aktivis hak asasi manusia yang mendukung gaya hidup seperti itu juga turut memperparah hal tersebut, selain dari media masa yang setiap hari menampilkan western lifestyle yang kurang sesuai dengan budaya kita. Hak asasi yang kebablasan juga pada akhirnya akan sedikit demi sedikit menggusur norma-norma kearifan lokal dan norma-norma agama yang telah lama di pegang erat oleh bangsa Indonesia, seperti yang belum lama ini diperbincangkan tentang UU pornografi yang oleh sebagian kalangan dikatakan Undang undang tersebut mengekang kebebasan berekspresi, serta belum lama adanya kalangan yang menyerukan hak untuk pasangan sesama jenis dan transgender. ini semua sudah sangat menyimpang dari norma-norma agama dan norma - norma lokal bangsa Indonesia.
Terakhir penulis berpesan kepada diri sendiri dan kita semua, bahwa untuk menanggulangi ini semua merupakan tugas kita bersama. Dimulai dari diri sendiri untuk tidak berlaku boros dan berlebih-lebihan. Selanjutnya untuk para pejabat, cendikiawan, tokoh masyarakat, dan para pelaku media untuk memberikan contoh yang baik, bukannya merusak dengan mencontohkan bahkan mendukung budaya - budaya yang akhirnya akan menghancurkan moral bangsa. Ingatlah bahwa disekitar kita masih banyak orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita. Alangkah lebih baik dari pada kita menghambur-hamburkan uang, sedekahkan untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. Apabila ada salah kata atau sesuatu yang kurang berkenan penulis mohon maaf.
‘Orang -orang boros adalah saudara-saudara setan.’ (QS Al-Isra: 27)
“Dari Abu Karimah al-Miqdad bin Ma`dikarib ra. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda: Tidaklah lebih berbahaya seseorang itu memenuhi suatu bejana melebihi bahayanya memenuhi perut. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang data menegakkan tulang punggungnya. Dan seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk nafasnya."Wassalam
Sumber : wikipedia,kompasiana,ugm.ac.id,kumpulan hadist,al-quran


0 komentar:
Posting Komentar